Blok7.id – Di saat Bank Indonesia terus menggaungkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional, nilai tukar rupiah justru masih berada dalam tekanan kuat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Bahkan, mata uang Negeri Paman Sam itu sempat menembus level Rp 18.000.Bank Indonesia sendiri menegaskan akan terus melakukan intervensi dan menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah gejolak yang terjadi.

“BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan ketika pelemahan rupiah masih berlanjut. Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS tercatat menguat 0,71% secara harian dan terakhir berada di level Rp 17.966.

Sementara itu, data Investing pada Kamis (4/6/2026) menunjukkan kurs dolar AS telah menyentuh Rp 18.015. Angka tersebut naik 49,4 basis poin atau 0,28% dibandingkan posisi sebelumnya. Dalam perdagangan harian, dolar bergerak di rentang Rp 17.937 hingga Rp 18.024.

Level Rp 18.000 juga sempat terlihat dalam data Google Finance. Tercatat, dolar AS berada di posisi Rp 18.010 pada pukul 23.23 UTC atau 06.23 WIB. Meski kemudian turun ke Rp 17.971 pada pukul 00.15 UTC atau 07.15 WIB, posisi tersebut tetap menunjukkan kuatnya tekanan terhadap rupiah.

Di tengah kondisi tersebut, BI mulai memperketat transaksi pembelian valuta asing tunai. Sejak 2 Juni 2026, bank sentral memberlakukan ketentuan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying sebesar US$ 25.000 per pelaku per bulan.

Tak hanya mengandalkan instrumen pasar, BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Langkah ini diklaim sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menekan dampak volatilitas nilai tukar.

Kerja sama LCT saat ini telah dijalankan Indonesia bersama sejumlah negara, yakni Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Meski berbagai instrumen telah digulirkan, pergerakan dolar yang masih bertahan di kisaran Rp 18.000 menunjukkan tantangan menjaga stabilitas rupiah belum sepenuhnya mereda.

Pasar kini menanti seberapa efektif langkah-langkah yang ditempuh bank sentral dalam menahan tekanan terhadap mata uang domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!