10018062281001806228

Blok7.id – Kasus keracunan yang diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi.

Kali ini, sebanyak 19 siswa SDN 1 Sendangrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, mengalami mual dan sakit perut setelah mengonsumsi susu dari menu MBG.

Para siswa yang mengeluhkan kondisi tersebut langsung dibawa ke Puskesmas Ngawen untuk mendapatkan penanganan medis. Dugaan sementara, keluhan itu berkaitan dengan susu yang disajikan dalam program MBG.

Menanggapi sejumlah kasus keracunan yang belakangan terjadi, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM), Rachma Wikandari, STP MBiotech PhD, menilai keamanan pangan harus menjadi perhatian utama dalam setiap tahapan penyediaan makanan.

Menurutnya, penyebab keracunan makanan umumnya berasal dari pangan yang telah terkontaminasi bakteri, termasuk Escherichia coli dan Salmonella.

Pengolahan Makanan Harus Sesuai SOPRachma menekankan relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib menerapkan standar operasional prosedur (SOP) sejak proses pengolahan hingga makanan diterima oleh para siswa.

Selain mengikuti prosedur, petugas juga harus menggunakan alat pelindung diri untuk menjaga kebersihan selama proses produksi makanan.

“Penggunaan masker, sarung tangan, dan alat pelindung juga wajib digunakan sebagai upaya menjaga kebersihan dan mencegah penyebaran mikroba dalam mengolah makanan,” kata Wikan, dikutip dari laman kampus, Selasa (21/10/2025).

Pernyataan itu disampaikan dalam pelatihan dan pendampingan food safety, hygiene, dan sanitasi bagi relawan SPPG. Kegiatan tersebut merupakan kerja sama FTP UGM dengan Yayasan Mitra Karya Maporina sebagai mitra Badan Gizi Nasional (BGN) yang berlangsung di Aula Sentra Kitchen Al Kautsar, Sleman, Yogyakarta, Senin (20/10/2025).

Waspadai Kontaminasi Silang

Rachma juga mengingatkan pentingnya mencegah kontaminasi silang selama proses pengolahan makanan.

Kontaminasi silang terjadi ketika bakteri atau mikroorganisme berbahaya berpindah dari bahan makanan mentah ke makanan matang melalui tangan, peralatan dapur, maupun permukaan yang tidak bersih. Kondisi tersebut berpotensi memicu keracunan makanan.

Untuk menghindarinya, terdapat beberapa langkah yang perlu diterapkan, antara lain:

  • Memisahkan bahan makanan mentah dan makanan matang.
  • Menjaga kebersihan tangan, area persiapan, serta peralatan dapur.
  • Menggunakan peralatan yang berbeda untuk bahan mentah dan makanan siap santap.
  • Menata area dapur agar tidak menjadi sumber kontaminasi.

Penyimpanan dan Penyajian Harus Diawasi

Keamanan pangan tidak berhenti setelah makanan selesai dimasak. Penyimpanan hingga proses penyajian juga harus memenuhi standar agar makanan tetap aman dikonsumsi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan meliputi menjaga suhu penyimpanan, memanaskan makanan secara sempurna sebelum disajikan, serta memastikan makanan tidak disajikan lebih dari enam jam setelah dimasak.

“Pengawasan terhadap waktu penyajian dan suhu makanan adalah bagian penting dari standar keamanan pangan. Banyak kasus keracunan terjadi bukan karena bahan yang buruk, tapi karena penyajian yang terlalu lama tanpa kontrol suhu,” terang Wikan.

Area Produksi Harus Bebas Sumber Cemaran

Sementara itu, dosen FTP UGM Dian Anggraini Suroto, STP MP MEng, menegaskan bangunan atau dapur tempat produksi makanan juga harus memenuhi standar kebersihan.

Menurutnya, dinding dan lantai area produksi harus rutin dibersihkan agar terbebas dari debu maupun kotoran yang dapat mencemari makanan.

Selain itu, lokasi pengolahan makanan juga harus dipastikan tidak berdekatan dengan sumber pencemaran, seperti toilet, tempat pembuangan sampah, maupun saluran air kotor.

“Lokasi pengolahan makanan tidak boleh dekat dengan tempat yang tercemar, karena tanpa disadari cemaran bisa juga melalui udara, air, hingga tanah,” kata Dian.

Evaluasi Rutin Dinilai Penting

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Yayasan Mitra Karya Maporina, Makbul Hajad, mengatakan evaluasi berkala terhadap proses produksi dan pelayanan menjadi bagian penting untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan program MBG.

Menurutnya, setiap masukan dan temuan di lapangan harus dijadikan bahan pembelajaran agar layanan yang diberikan terus mengalami perbaikan.

“Dua minggu terakhir terus dilakukan perbaikan bersama. Semua kekurangan dan catatan yang tersampaikan jadi pembelajaran bersama supaya layanan kita lebih baik,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!