BLORA, Blok7.id – Gelombang kemarahan petani tebu di Kabupaten Blora akhirnya mencapai titik didih. Pada Senin, 1 Juni 2026 mulai pukul 08.00 WIB, ribuan petani tebu, elemen rakyat desa, dan mahasiswa direncanakan menggelar ‘Aksi Tumpah Tebu’ di depan PG GMM sebagai bentuk perlawanan terbuka terhadap krisis industri gula yang dinilai semakin menghancurkan kehidupan rakyat kecil.
Aksi tersebut bukan sekadar demonstrasi biasa. Massa akan membawa tebu hasil panen dan menumpahkannya di depan pabrik sebagai simbol kemarahan rakyat terhadap ketidakpastian nasib petani yang selama ini terus dipaksa menanggung beban krisis industri gula.
Mimbar bebas, orasi kerakyatan, hingga teatrikal rakyat akan mewarnai aksi yang diperkirakan menjadi salah satu konsolidasi sosial terbesar petani tebu Blora dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi masyarakat desa, tebu bukan hanya komoditas pertanian. Tebu adalah urat nadi kehidupan. Dari ladang-ladang tebu, ribuan keluarga menggantungkan hidup antara lain, biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, pekerjaan buruh tebang, penghasilan sopir angkutan, hingga denyut ekonomi warung-warung kecil desa.
Namun kini, seluruh mata rantai ekonomi rakyat itu berada di ujung ketidakpastian.
Tutupnya operasional PG GMM dan kisruh industri gula dinilai telah memukul kehidupan puluhan ribu warga yang selama ini bergantung pada sektor tebu. Dampaknya meluas yakni, buruh kehilangan pekerjaan, sopir kehilangan penghasilan, warung-warung mulai sepi, hingga ekonomi desa ikut melemah akibat berhentinya perputaran uang rakyat.
Koordinator aksi dari Front Blora Selatan, Exy Wijaya, menegaskan bahwa aksi tumpah tebu merupakan bentuk kemarahan rakyat desa yang sudah terlalu lama dipaksa bersabar menghadapi janji-janji tanpa kepastian.
“Petani sudah terlalu sering diberi janji. Tapi yang datang ke desa justru ketidakpastian. Kami datang membawa tebu bukan untuk mencari keributan, tapi untuk menunjukkan bahwa ada jerih payah rakyat yang sedang dipermainkan. Kalau negara terus membiarkan petani menanggung beban krisis sendiri, maka perlawanan rakyat akan terus membesar,” tegas Exy Wijaya.
Menurutnya, rakyat kecil tidak boleh terus dijadikan tameng untuk menutupi kegagalan tata kelola industri gula.
“Yang berkeringat di sawah rakyat, yang menanggung rugi juga rakyat. Jangan sampai petani dijadikan korban untuk menyelamatkan kepentingan yang lebih besar,” lanjutnya.
Senada dengan itu, Koordinator Paguyuban Petani Tebu Blora, Anton Sudibyo, menyebut keresahan petani saat ini sudah berada pada level yang sangat serius karena menyangkut keberlangsungan hidup ribuan keluarga desa.
“Tebu ini bukan sekadar tanaman. Ini sumber makan rakyat. Dari tebu kami menyekolahkan anak, membayar kebutuhan rumah tangga, menghidupi buruh tebang, sopir, dan ekonomi desa. Kalau industri gula bermasalah lalu petani ikut dikorbankan, itu sama saja memukul kehidupan rakyat kecil,” ujar Anton.
Anton juga mendesak pemerintah pusat dan DPR RI agar turun langsung melihat kondisi petani di lapangan, bukan hanya menerima laporan di Jakarta.
“Kami meminta Komisi IV dan Komisi VI DPR RI datang ke Blora. Dengarkan langsung suara petani. Negara harus hadir membela rakyat, bukan hanya sibuk menyelamatkan perusahaan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Paguyuban Petani Tebu Blora, Hairul Anwar, menyoroti pentingnya transparansi terkait persoalan hutang PG GMM yang disebut mencapai kurang lebih Rp2 triliun.
“Persoalan hutang harus dibuka terang kepada publik. Petani jangan dijadikan korban dari krisis perusahaan. Kami menolak jika beban kesalahan tata kelola akhirnya ditimpakan kepada rakyat kecil yang selama ini justru menjadi tulang punggung produksi gula,” tegas Hairul.
Ia memperingatkan bahwa krisis industri gula tidak hanya mengancam petani, tetapi juga dapat melumpuhkan ekonomi desa secara menyeluruh.
“Kalau petani jatuh, desa ikut lumpuh. Warung sepi, buruh kehilangan pekerjaan, pengangguran naik. Ini bukan sekadar soal perusahaan, tapi menyangkut kehidupan sosial ekonomi rakyat,” ujarnya.
Bagi petani tebu Blora, persoalan ini bukan semata soal panen dan pabrik gula. Ini tentang masa depan ekonomi rakyat desa yang perlahan merasa ditinggalkan di tengah krisis.
Dan ketika suara petani terus diabaikan, perlawanan mulai tumbuh dari desa-desa. Dari ladang-ladang tebu. Dari rakyat yang merasa hidupnya makin terdesak oleh kepentingan industri dan kekuasaan.
“Kalau tebu rakyat tidak lagi dihargai, maka rakyat sendiri yang akan turun ke jalan membawa hasil panennya sebagai perlawanan.”
(Redaksi)
