Spread the love

Blok7. id – Dalam kancah politik Indonesia, gaya bicara tegas dan lugas selalu menjadi ciri khas Prabowo Subianto. Namun, memasuki masa kepemimpinannya, ketegasan tersebut kini mulai dipertanyakan oleh publik. Prabowo kian sering terjebak dalam pusaran pernyataan yang dianggap “asbun” (asal bunyi) dan tidak konsisten, menciptakan kebingungan di tengah masyarakat yang membutuhkan kepastian.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Kontradiksi Bantuan Luar Negeri: Dari “Mampu” Menjadi “Bodoh”

Salah satu contoh nyata inkonsistensi ini terlihat dalam penanganan krisis atau isu nasional baru-baru ini. Pada pertengahan Desember 2025, dengan nada patriotik yang tinggi, Prabowo menyatakan di hadapan media bahwa Indonesia menolak bantuan dari negara-negara sahabat.

“Saya ditelepon banyak pimpinan kepala negara ingin kirim bantuan. Saya bilang terima kasih, konsen Anda. Kami mampu. Indonesia mampu mengatasi ini.”

Pernyataan tersebut sempat memicu rasa bangga akan kemandirian bangsa. Namun, ironisme terjadi hanya dalam hitungan minggu. Pada 1 Januari 2026, narasi tersebut berputar balik 180 derajat. Prabowo justru mempertanyakan mengapa ada pihak yang menolak bantuan, bahkan melabeli tindakan penolakan tersebut sebagai sesuatu yang bodoh.

“Silakan kalau yang saya katakan itu, ini kan masalah kemanusiaan. Kalau siapapun yang mau bantu masa kita tolak? Bodoh sekali kalau kita tolak.”

Perubahan sikap yang drastis dalam waktu singkat ini memicu kritik bahwa kebijakan negara hanya didasarkan pada mood retorika saat itu, bukan pada perencanaan yang matang.

Kekacauan Data dan Momen “Salah Tahun”

Inkonsistensi Prabowo tidak hanya berhenti pada substansi kebijakan, tetapi juga pada detail fundamental. Di momen krusial perayaan Tahun Baru 2026, sebuah insiden memalukan terjadi saat beliau memberikan sambutan. Alih-alih merayakan pergantian tahun ke 2026, ia justru berkali-kali menyebutkan tahun 2021.

Kesalahan penyebutan tahun ini bagi sebagian orang mungkin dianggap sepele, namun bagi seorang kepala negara, hal ini menunjukkan kurangnya fokus dan persiapan. Di media sosial, netizen mulai menjuluki gaya komunikasi ini sebagai “asbun”, di mana kata-kata dilemparkan ke publik tanpa melalui proses sinkronisasi data yang akurat.

Dampak Terhadap Kepercayaan Publik

Fenomena “asbun” dan inkonsistensi ini membawa dampak serius:

  • Ketidakpastian Pasar: Pelaku ekonomi membutuhkan narasi yang stabil untuk menentukan langkah investasi.
  • Krisis Kepercayaan: Masyarakat menjadi skeptis terhadap janji atau klaim keberhasilan pemerintah.
  • Citra Internasional: Inkonsistensi dalam menerima atau menolak bantuan internasional dapat membingungkan mitra diplomatik Indonesia.

Sebagai pemimpin, kemampuan untuk menjaga keselarasan antara ucapan dan tindakan adalah kunci stabilitas. Jika gaya komunikasi “asal bunyi” ini terus berlanjut, Indonesia dikhawatirkan akan kehilangan arah di bawah kepemimpinan yang bicaranya berubah-ubah mengikuti arah angin.

error: Content is protected !!