BLORA, Blok7.id – Gelombang solidaritas rakyat menggema kuat dari kawasan hutan Getas, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora. Pada Selasa (14/7/2026), aliansi masyarakat yang mengatasnamakan Barisan Perjuangan Rakyat menggelar audiensi akbar bersama pihak Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) UGM.
Aksi yang mengusung tagar #SaveKangPeyek ini langsung mencuri perhatian publik. Terlebih, setelah poster seruan aksi bergaya teatrikal ala selebaran pejuang kemerdekaan viral di berbagai platform media sosial.
Dalam poster tersebut, terpampang pesan kuat yang menohok, ‘Suara Rakyat Tidak Boleh Diabaikan!’, sebuah manifesto yang berhasil memantik empati luas dari netizen dan warga lokal.
Audiensi yang dipusatkan di Kampus KHDTK UGM Getas sejak pukul 10.00 WIB ini bukan sekadar aksi protes musiman. Perwakilan Barisan Perjuangan Rakyat menegaskan bahwa agenda utama mereka adalah mendobrak kebuntuan komunikasi guna membuka ruang dialog yang jujur, adil, dan berpihak kepada masyarakat bawah, khususnya terkait persoalan krusial yang menimpa sosok ikonik, ‘Kang Peyek’.
“Rakyat menuntut ruang dialog yang terbuka, penyelesaian yang berkeadilan, serta keberanian seluruh pemangku kebijakan untuk mendengar dan bertindak. Bukan saling menyalahkan. Saatnya duduk bersama,” tegas pernyataan sikap yang dibacakan dengan lantang di tengah massa aksi.
Hadirkan Anggota Dewan hingga Camat
Meskipun tensi tuntutan meninggi, suasana di lokasi terpantau tetap kondusif dan tertib. Warga yang hadir membawa harapan besar agar sengkarut yang selama ini mengimpit masyarakat di sekitar kawasan hutan Getas segera menemukan titik terang.
Demi mengawal kepastian hukum, audiensi ini turut menyeret berbagai unsur penting dari pemerintah dan pemangku kebijakan daerah. Sejumlah pihak yang dihadirkan di antaranya:
- DPRD Kabupaten Blora
- Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Blora
- Camat Kradenan
- Kepala Desa Nglebak
- Ketua PRAJA Blora
Kehadiran para pejabat ini didesak untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan mampu menjadi jembatan dialog sekaligus memberikan kepastian hukum yang konkret. Warga menilai, selama ini masyarakat kecil di sekitar kawasan hutan kerap diposisikan lemah dan rawan menjadi korban ketidakadilan.
Jagat Maya Ikut Bergolak
Sementara itu, di ranah digital, gerakan ini kian tak terbendung. Tagar #SaveKangPeyek terus bergema dan memuncaki perbincangan. Dukungan masif dari netizen menandakan bahwa isu agraria dan kemanusiaan di Blora ini telah melampaui batas lokal dan bertransformasi menjadi perhatian nasional. Publik mendesak agar pertemuan ini tidak berakhir sebagai ‘seremonial di atas kertas’, melainkan melahirkan solusi humanis.
Hingga berita ini diturunkan, proses audiensi masih berlangsung dengan pengawalan ketat namun tertib dari aparat gabungan. Kini, mata publik tertuju pada Kampus KHDTK UGM Getas, apakah suara rakyat kali ini benar-benar didengar, atau kembali kandas di tengah ego sektoral dan tarik-menarik kepentingan penguasa?
Satu hal yang pasti, dari tanah Blora hari ini, sebuah pesan keras telah dikirimkan, keadilan bukan untuk ditunda, melainkan untuk diperjuangkan sampai tuntas.
(Redaksi/Hans)
