Spread the love

BLORA, Blok7.id – Deru arus Sungai Lusi kembali menjadi mimpi buruk bagi keluarga Sarman, warga Jalan Reksodiputro Gang Cimanuk No. 7, RT 04/RW 03, Kelurahan Kedung Jenar, Kabupaten Blora.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Pada Jumat dini hari (13/2/2026) sekitar pukul 02.00 WIB, tanah di bawah rumah mereka mendadak longsor akibat abrasi sungai, mengakibatkan satu kamar tidur amblas dan bagian dapur kini berada di ambang kehancuran.

Peristiwa terjadi tanpa tanda-tanda awal. Tidak ada retakan dinding atau suara gemuruh yang sempat menjadi peringatan. Tanah di bawah bangunan tiba-tiba luruh ke dasar sungai, meninggalkan lubang menganga yang mengancam keselamatan penghuni rumah.

“Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Tiba-tiba saja tanahnya ambles,” ungkap Irul, cucu Sarman, Senin (16/2/2026).

Bagi keluarga Sarman, ini bukan musibah pertama. Pada kejadian sebelumnya di lokasi yang sama, longsor juga sempat terjadi. Saat itu, keluarga telah melapor ke tingkat RT/RW dan pemerintah merespons dengan pemasangan bronjong batu di tepi sungai sebagai langkah pencegahan.

“Dulu pas longsor pertama keluarga sudah pernah lapor dan sebelum itu sudah ada tindakan pencegahan dari pemerintah yaitu membronjong bebatuan di area tepi sungai,” jelas Irul.

Namun, bronjong yang dipasang tak lagi mampu menahan derasnya gerusan arus tahun ini. Intensitas abrasi disebut semakin masif, membuat struktur tanah di bantaran sungai kian rapuh.

Setelah longsor terbaru terjadi, keluarga kembali melapor kepada Lurah Kedung Jenar pada Sabtu pagi (14/2/2026).

Pihak kelurahan bersama jajaran terkait langsung melakukan peninjauan lapangan pada siang harinya. Meski demikian, hingga kini belum ada tindak lanjut teknis maupun bantuan konkret yang diterima korban.

Perbedaan respons antara kejadian pertama dan musibah terbaru ini menjadi sorotan keluarga. Jika sebelumnya penanganan dinilai cepat, kali ini mereka merasa hanya didata tanpa kepastian solusi.

Kini, keluarga Sarman hidup dalam kecemasan. Setiap malam menjadi taruhan keselamatan, menunggu apakah bagian dapur akan menjadi korban berikutnya dari ganasnya abrasi Sungai Lusi.

Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Blora tidak sekadar hadir untuk mencatat kerusakan, tetapi mengambil langkah strategis dan memberikan bantuan nyata sebelum rumah mereka benar-benar habis ditelan sungai.

“Pemerintah mesti melihat situasi keluarga korban saat ini dan memberikan bantuan dan keputusan yang tepat untuk kejadian tanah longsor ini,” pungkas Irul penuh harap. (Hans)

error: Content is protected !!