BLORA, Blok7.id – Di tengah gempuran kuliner modern, sebuah warung sederhana di Desa Ngumbul, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, menjadi benteng pelestarian cita rasa sejati pedesaan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Di sinilah Mbah Sumirah, seorang perempuan paruh baya, setiap sore mengobati kerinduan warga akan makanan tradisional dengan sajian utamanya: Nasi Jagung (Brabuk) bebas gula yang dibungkus rapi menggunakan daun jati yang khas.
Warung yang berlokasi di Jl, Ngumbul-Todanan ini mungkin tampak sederhana, tetapi daya tariknya sungguh luar biasa. Mulai pukul 16.30 WIB, warung Mbah Sumirah langsung diserbu pembeli.
Pemandangan Mbah Sumirah yang cekatan membungkus nasi jagung bersama sang anak adalah tontonan yang menghangatkan.
Menu Rakyat, Harga Merakyat, Rasa Mengikat
Nasi jagung Mbah Sumirah ditemani beragam lauk tradisional yang tak kalah menggoda, seperti urapan kacang toge, brambang asam, botok lamtoro, tumis terong, teri, ikan asin, sayur nangka muda, dan aneka gorengan.
Semua tersaji hangat dan otentik, memancarkan cita rasa khas pedesaan yang jujur.
Namun, yang paling mengejutkan adalah harganya. Untuk satu porsi lengkap, harganya mulai dari Rp2.000 saja. Harga yang terjangkau ini adalah wujud niat mulia Mbah Sumirah.
“Saya ingin orang kecil bisa makan enak tanpa harus mikir mahal,” tuturnya sambil tak berhenti melayani antrian pembeli.
Ludes dalam Waktu Singkat
Jangan harap bisa bersantai jika ingin menikmati sajian legendaris ini. Pembeli harus bergerak cepat. Dalam waktu kurang dari satu jam, satu bakul besar nasi jagung sering kali sudah ludes. Fenomena ini membuktikan betapa kuatnya daya pikat kuliner tradisional yang otentik.
Yanti (43), salah seorang pelanggan setia, mengaku sengaja datang lebih awal. “Rasanya itu khas banget, mengingatkan saya waktu kecil di desa. Harganya murah, tapi bikin kenyang dan puas. Kalau telat datang, pasti sudah habis,” ujarnya.
Warung Nasi Jagung Mbah Sumirah adalah lebih dari sekedar tempat makan. Ia adalah simbol kehangatan tradisi kuliner desa yang terus bertahan, menjanjikan nostalgia dan hidangan lezat yang merakyat di tengah perkembangan zaman. (Hans)
