​JAKARTA, Blok7.id – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, resmi mengambil langkah taktis dengan merombak jajaran kabinetnya.

Pelantikan sejumlah pejabat baru di posisi krusial ini dipandang sebagai upaya pembersihan jalur birokrasi guna mempercepat target swasembada pangan dan perlindungan lingkungan hidup yang menjadi rapor merah di periode sebelumnya.

​Dalam pelantikan yang berlangsung khidmat di Istana Negara, Presiden menempatkan sosok-sosok yang dianggap memiliki determinasi tinggi. Salah satu kejutan besar adalah penunjukan Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

Penunjukan ini memberikan sinyal bahwa pemerintah ingin mengadopsi pendekatan yang lebih berani dalam isu keberlanjutan.

​Sementara itu, penguatan sektor kedaulatan pangan dipertegas dengan dilantiknya Hanif Faisol Nurofiq sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan. Kehadiran Hanif diharapkan mampu menjadi motor penggerak koordinasi lintas sektoral yang selama ini dianggap masih tumpang tindih.

​Langkah tajam juga terlihat di lingkaran dalam Istana. Mantan KSAD, Dudung Abdurachman, kini resmi memegang tongkat komando sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Penunjukan Dudung dinilai banyak pihak sebagai langkah Prabowo untuk memastikan disiplin eksekusi kebijakan di tingkat kementerian berjalan tanpa kompromi.

​Sektor komunikasi pemerintah pun tak luput dari perombakan total:

  • ​Muhammad Qodari: Ditunjuk sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah.
  • ​Hasan Nasbi: Menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi.
  • ​Abdul Kadir Karding: Dilantik sebagai Kepala Badan Karantina Indonesia guna memperketat pengawasan komoditas masuk-keluar negeri.

​”Penyegaran ini bukan sekadar rotasi rutin, melainkan upaya penguatan kinerja pemerintah dalam menghadapi tantangan global di sektor pangan dan lingkungan yang kian mendesak,” ungkap Presiden Prabowo Subianto, Senin (27/4/2026).

Reshuffle ini bukan tanpa risiko. Publik kini menunggu apakah deretan nama besar ini mampu memberikan hasil instan atau sekadar menjadi ornamen baru dalam struktur kekuasaan.

Fokus utama jelas tertuju pada efektivitas pelayanan masyarakat dan pemangkasan ego sektoral yang seringkali menghambat program-program strategis nasional. Dengan komposisi baru ini, Presiden Prabowo seolah mengirimkan pesan kepada seluruh jajarannya, ‘Bekerja optimal atau tereliminasi’.

(Redaksi/Hans)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!