Blok7.id – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Senin (18/5/2026) sore, rupiah tercatat berada di level Rp 17.668 per dolar AS atau turun 71 poin dibanding perdagangan sebelumnya.

Kondisi ini mulai memicu kekhawatiran masyarakat karena berpotensi berdampak pada harga kebutuhan pokok hingga biaya hidup sehari-hari.

Menanggapi situasi tersebut, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya Budi Wahyu Mahardhika membagikan sejumlah langkah yang bisa dilakukan masyarakat agar dampak pelemahan rupiah tidak semakin terasa dalam keuangan keluarga.

Menurut Budi, langkah pertama yang perlu dilakukan ialah mengurangi ketergantungan pada utang konsumtif. Masyarakat diminta mulai membedakan kebutuhan dan keinginan.

“Hindari cicilan untuk barang yang tidak penting. Cicilan memang terasa ringan saat suku bunga rendah, tetapi akan menjadi beban ketika suku bunga naik dan akhirnya mengorbankan kebutuhan yang lebih penting,” ujar Dosen Manajemen tersebut pada, Selasa (19/5/2026).

Ia juga menyarankan masyarakat menunda pembelian barang yang belum terlalu dibutuhkan demi menjaga kondisi keuangan jangka panjang.

Selain itu, Budi menilai masyarakat perlu mulai membangun dana darurat secara rutin. Menurutnya, kebiasaan menabung bisa dimulai dari nominal kecil, misalnya Rp 100 ribu per minggu.

“Fokus pada kebiasaan menabung rutin, meskipun kecil. Jangan menunggu krisis untuk mulai menyiapkan perlindungan finansial,” tambahnya.

Budi juga mengingatkan pentingnya mengevaluasi anggaran rumah tangga dan kebiasaan belanja harian. Sebab, pengeluaran kecil yang tidak disadari kerap membuat penghasilan bulanan cepat habis.

Ia menyarankan masyarakat memilih pola hidup yang lebih hemat, seperti memasak sendiri di rumah dan mengurangi kebiasaan nongkrong atau membeli kopi di kafe.

Tak hanya itu, masyarakat juga diminta mulai mencari sumber penghasilan tambahan dan meningkatkan literasi keuangan agar tidak bergantung pada satu pemasukan saja.

“Masyarakat bisa mulai dari langkah sederhana seperti membuka usaha kecil, pekerjaan lepas, atau jasa tambahan sambil belajar menyusun anggaran, memahami bunga utang, dan investasi dasar,” jelasnya.

Di sisi lain, Budi menyarankan masyarakat mulai melakukan diversifikasi aset untuk menjaga nilai tabungan. Ia menilai masyarakat tak perlu menyimpan seluruh dana dalam bentuk tunai rupiah.

Instrumen seperti emas, deposito, hingga obligasi dinilai bisa menjadi alternatif yang lebih aman dan likuid di tengah tekanan ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!